 |
| Kalah lagi, lah... (Freepik). |
Okeh, saatnya penulis mencoba artikel berbahan topik lainnya, yaitu sejenis gim yang sempat dimainkan. Artikel ini menjadi rekomendasi lima gim, yang diantaranya adalah FTL, Banished, Stardew Valley, Battle Brothers, dan Slay The Spire. Kelima gim ini adalah sejenis gim Roguelike, yang bisa langsung Game Over jika salah satu-dua langkah saja. Namun, kelima gim dipilih karena tidak terlalu kompleks dan Hardcore, dan setiap sesinya tidak terlalu lama.
Mengacu pada judul artikel ini, Roguelike Terkenal Santai Tanpa VGA memang harfiah. Yaitu, gim Roguelike terkenal, dan saking terkenalnya, bahkan langsung merubah pasar gim sejak perilisannya. Ya, semenjak kelima gim ini dirilis, pasar gim berubah dan tidak hanya banyak orang yang suka, para developer (alias pengembang) gim pun banyak yang ikut menirunya. Seakan gim tersebut menjadi sub-genre tersendiri.
Nah, bagaimana dengan istilah Tanpa VGA-nya? Justru disitulah uniknya. Gim tersebut memang memiliki spesifikasi rendah, sehingga dapat dimainkan di banyak kemampuan PC atau Laptop (layaknya meme Doom).
Memang tertulis pada setiap spek gimnya, yaitu minimum VGA yang bisa menjalankan OpenGL 3, DirectX 9c, atau Pixel Shader 3 saja, dengan berbagai jumlah VRAM-nya. Spesifikasi macam ini, adalah minimum (Intel HD) bagi setiap PC. Bahkan tanpa bantuan grafis semacam ini, membuka notepad atau bahkan menonton video saja bisa berujung nge-lag.
Penulis pun memiliki pengalaman sendiri mengenai gim tersebut, yaitu sempat dimainkan saat VGA dalam PC rusak, dan perlu menggunakan VGA Onboard saja, alias bawaan dari Motherboard. Penulis memang telah memainkan, dan bahkan memiliki beberapa screenshot (tangkapan layar) dari berbagai gim tersebut.
Semenjak itu pula, penulis mulai beralih menyukai berbagai jenis gim Roguelike. Layaknya gim arcade terdahulu (alias ding-dong), setiap sesinya memang hanya setengah hingga satu jam saja. Namun, karena sangat hectic, visceral, dan instan, sehingga sangatlah menyenangkan, selayaknya gim yang tanpa perlu berpikir lebih untuk mencobanya.
Gim sejenis ini pun memiliki RNG (Random Numeric Generator) tersendiri, jadi setiap sesi bisa berubah keadaan yang tiba, sesuai pilihan acak dari gimnya. Tentunya, replayability (main ulang) akan tinggi, karena berbeda tantangan setiap kali main. Bahkan ada istilah meme sendiri dari Inet, yaitu kurang puas tanpa bermain satu kali lagi, padahal baru saja memainkan sesi setengah jam gim Roguelike (saking asyiknya).
Sementara genre Roguelike adalah pengembangan dari nama gim Rogue dari tahun 1985 lalu, saat PC masih bersistem operasi MS-DOS. Karena gim Rogue bisa menyebabkan pemainnya insta-fail alias game over saat bertahan di satu sesi dungeon saja, justru membuat pemainnya gregetan, dan ingin mencoba lagi. Sub-genre Roguelike di jaman sekarang pun sudah terkombinasi dengan banyak genre lainnya, sehingga merubah pasar gim secara keseluruhan.
Okeh, saatnya membahas kombinasi berbagai gim yang berasal dari banyak genre ini, namun tetap memberi kesan Roguelike-nya. Oh ya, penulis hanya mengisi tahun saat gimnya sudah melalui Full-Release, alias tidak membahas tahun awal Early-Access-nya (yang biasanya bertahun-tahun).
 |
| Belum apa-apa, ruang medis sudah terbakar (via Acerax). |
Faster Than Light (FTL)
Yang pertama adalah gim Roguelike bertema antariksa dengan pesawatnya, berjudul singkat saja FTL, yang dirilis pada tahun 2012 lalu. Ceritanya adalah satu pesawat yang perlu mengantarkan suatu benda berharga, namun dikejar oleh federasi angkasa yang besar, sehingga tidak bisa kembali dan harus terus maju.
Pemain pertama memilih pesawatnya terlebih dahulu, dengan kombinasi senjata dan krunya. Pesawat awalnya ditempatkan di satu titik koordinat, dan harus mengecek lalu maju ke titik berikutnya demi mencapai tujuan akhir.
Saat berada dalam satu titik, gim ini dimainkan secara Real Time with Pause, alias bisa dijeda saat aksinya berlangsung. Titik koordinat berisi random nan acak, yaitu bisa berisi asteroid dan planet yang bisa ditambang, sejenis stasiun atau pesawat antariksa untuk berdagang, atau bahkan musuh dan sejenis alien.
Jika bertemu dengan lawan berbahaya, maka gim masuk ke mode tarung. Pemain bisa menjeda gim-nya terlebih dahulu, untuk menentukan strategi dan mengarah senjata pada bagian tertentu pesawat, sebelum melawan musuhnya.
Nah, uniknya FTL ini, ternyata membuka banyak inspirasi bagi banyak developer gim. Entah berapa banyak gim sejenis yang ditelurkan oleh para pengembang, yang memang berlandaskan FTL. Kisah satu pesawat yang menjelajahi antariksa demi satu misi, lengkap dengan aksi ala Star Trek, memang cukup jarang diadaptasi pada sebuah gim.
Bagi yang ingin mencoba gim berukuran 150 megabytes ini, perlu diperingati satu terlebih dahulu. Dibandingkan gim lain di artikel ini, gim ini agak lambat diawal. Sehingga, lebih cocok dengan istilah slow-burn, dimana awalnya lambat namun tetap greget berkepanjangan.
 |
| Ini baru sampai udah disambut badai salju... (via Acerax). |
Banished
Berikutnya adalah gim yang mengingatkan ramainya animo city builder, alias colony simulator di era tahun 90an hingga 2000an, berjudul Banished. Gim dari tahun 2014 yang berukuran 100an MB ini memang sejenis strategi yang khas dengan sudut pandang isometriknya.
Namun berbeda dengan kebanyakan RTS (Real Time Strategy), justru karakternya tidak dikendalikan langsung, sementara satu koloni dibantu oleh pemain untuk bertahan hidup. Ya, tidak ada gelut sama sekali dalam gim Banished ini.
Animo sejenis ini memang sempat ramai di tahun 90 hingga 2000an, hingga akhirnya jaman dimana banyak RTS tergerus oleh genre lain. Namun, Banished berhasil mempopulerkan genre ini lagi. Seperti sebelumnya, banyak pengembang gim lain yang mencoba ngoprek gim simulasi koloni ini.
Pertama, pemain hanya diminta memilih peta saja, yang dipilih secara acak detail dan isinya oleh gim. Lalu, disana pemain memiliki sekitar satu lusin warga desa, yang perlu bertahan di koloni baru (saat jaman pertengahan). Pemain mulai membangun rumah, lahan gandum, gudang makanan dan mineral, jalan raya, lokasi tambang, gudang peralatan, hingga pandai besi dan toko baju.
Urusan logistik serta komoditas yang ada, harus disesuaikan setiap sesinya, yang bisa mencapai berjam-jam. Itu pun tergantung lokasi, kondisi, serta kelihaian pemain, maka satu koloni bisa berhasil atau tidak (layaknya Roguelike). Makanya, banyak penggemar menyukainya dan pengembang gim lain pun menirunya.
Bahkan di ujung sesi yang berhasil, satu desa yang awalnya hanya memiliki sedikit rumah, gudang, dan satu lahan gandum saja, dapat terlihat seperti kota di akhir sesi tersebut. Terdapat sekolah, rumah sakit, pasar, toko pakaian, gedung ibadah dan teater, pemakaman umum, hingga rumah mewah bagi yang sanggup. Semua itu, tergantung pada kemampuan pemain untuk dapat mencapai koloni yang makmur nan sejahtera.
Namun banyak kendala pula yang menghadap pemain, seperti gagal panen, lokasi tambang batu dan besi yang habis, jalan yang terlalu jauh dan berbelit, hama dan wabah penyakit, hingga musim yang berubah. Tantangan ini muncul setiap sesinya, dan perlu dikelola langsung oleh pemain dengan rencana jangka panjang dan berfaedah.
 |
| Peternakan Ikan yang minimalis ala Valis (via Acerax). |
Stardew Valley
Nah bagi yang paham dunia gim, pasti heran mengapa Stardew Valley masuk dalam daftar di artikel ini. Namun, gim bercocok tanam dan tambang ini ternyata punya satu khas yang menjadikannya Roguelike. Yaitu, saat pemain hanya bisa menyimpan gim satu hari sekali di rumah (pas tidur).
Selain itu, ketika pemain kelelahan atau bahkan berada di dalamnya tambang, pemain bisa knock (pingsan) dan langsung kehilangan banyak barang yang dibawanya. Jadi, ternyata cukup 'berbahaya' juga gim ini.
Okeh, selain fitur tersebut yang agak Roguelike, ternyata sisanya cukup santai. Gim bercocok tanam ini, sebenarnya adalah genre yang mirip Harvest Moon, alias cozy nan santai berwibawa. Pemain bisa bercocok tanam sesuai musimnya, menanam bunga untuk mengundang lebah, memancing ikan di sungai, danau, dan laut, menambang sambil berburu slime, hingga membangun rumah dan keluarga. Ya, memang sejenis simulasi hidup (Life Sim) yang wajar.
Sama seperti gim sebelumnya, Stardew Valley adalah pencetus ramainya kembali gim bercocok tanam di PC. Saking ramainya, sang kreator Concerned Ape (Eric Barone) yang pas awal hanya bekerja sendiri, langsung instan menjadi miliuner. Memang banyak yang kangen dengan gim sejenis ini, sehingga early-access-nya langsung terjual 500 ribu copy pas awal peluncurannya (!)
Bahkan Stardew Valley sebenarnya tidak seribet itu. Dari pengalaman penulis yang membangun lokasi pertanian ikan (?), lebih banyak berisi kolam untuk memanen telurnya, alias caviar. Selain itu, penulis hanya menanam bunga demi membuat madu, serta manisan buah-buahan dari rumah kaca.
Sisanya, hanya terdengar suara ayam, kambing, dan sapi. Ayam kadang diambil telurnya, sementara sapi diperah susunya, dan kambing digunting wolnya. Jadi, hanya terdapat tiga lokasi utama, yang menghabiskan sepertiga lahan saja.
Oh ya, gim ini memiliki open-world pula, alias bisa menjelajah kemana saja. Terdapat lokasi kota, pantai, hutan, dan stasiun kereta. Bahkan terdapat pula pulau lain yang bisa dikunjungi (dan sekalian gelut). Jadi, tidak terjebak di satu lokasi pertanian saja. Kadang di kota terjadwal pula banyak festival setiap musimnya, dan pemain bisa ikutserta selama satu hari penuh.
 |
| Tutorial BB yang sudah cukup sulit (via Acerax). |
Battle Brothers
Akhirnya, tiba di gim yang cukup brutal pula, berjudul Battle Brothers dari tahun 2017 lalu. Gim open-world yang penuh dengan luka-liku para pasukan bayaran di dunia fantasi ini, berlandaskan gelut turn-based, alias setiap karakter harus menunggu gilirannya ala catur dan kartu.
Selayaknya catur, setiap karakter yang diturunkan pemain saat gelut pun terbatas. Hanya maksimum 12 saja yang bisa diturunkan langsung, sementara sisanya adalah cadangan. Misi yang diterima di kota, lalu dilancarkan dengan sistem combat (gelut) semacam ini.
Pemain harus memilih senjata dan baju zirah (armor) bagi setiap karakternya, dan disesuaikan dengan perannya saat gelut. Terdapat senjata seperti kapak, pedang, hingga gada yang lengkap dengan perisainya. Untuk urusan jarak jauh, busur panah serta senapan mesiu masih mengisi gim ini.
Jika karakter naik level, maka skill (alias kemampuan)-nya bisa dinaikan, dan disesuaikan dengan perannya. Musuh pun memiliki kemampuan yang sama, itupun kalau bentuknya manusia. Ya, gim ini adalah sejenis low-fantasy, dimana banyak monster dan mahluk mitos lainnya, tetapi tidak mengumbar banyak kemampuan magisnya. Sehingga, gelut pun terbatas pada standar saja.
Namun, bahayanya sangatlah Roguelike, yaitu setiap karakter di Battle Brothers dapat meninggal begitu saja pas gelut. Bahkan jika selamat pun, terdapat cedera hingga cacat pada bagian tubuh tertentu, tanpa bisa disembuhkan sama sekali.
Jika saat gelut seluruh tim kalah (wiped out), maka pemain perlu mengulang dari awal. Namun tidak perlu kecewa, karena setiap sesi gim ini paling lama (hingga late-game) hanya selusin jam saja. Ya, memang gim BB ini agak hardcore sih. Tinggal disetel saja tingkat kesulitan yang ingin dimainkan.
Oh ya, gim ini punya banyak cerpen (cerita pendek) pada setiap sesinya, yang muncul saat misi atau saat perjalanan antar wilayah. Cerita kadang berpengaruh langsung pada moral para karakter, jadi perlu dibaca dan dicek apa efeknya.
Musuh khusus monster memiliki nama yang unik, karena berasal dari kisah mitologi Jerman. Jadi, monster bernama Webknecht berarti laba-laba berukuran raksasa. Monster lain pun sama uniknya, yaitu sejenis Orc, Goblin, Undead (Mayat Hidup), Golem, Unhold (sejenis Troll), Alp (sejenis Jurig), Lindwurm (sejenis Naga). Untuk manusianya, banyak pula jenisnya seperti Barbarian, Brigands (sejenis Bandit), atau pasukan berbayar lainnya.
Setiap jenis musuh, memiliki taktiknya sendiri. Pokoknya, sesuaikan saja strategi untuk melawannya. Yang terpenting, di depan adalah Tank dengan perisainya, lalu dibelakangnya adalah karakter sangar bersenjata raksasa (two-handed), lalu jauh di belakang adalah pemanah (Archer) serta penembak jitu (Gunner). Terdapat senjata lain seperti Javelin (Tombak Lempar), Net (Jaring), dan Bom yang bisa digunakan sesuai situasi dan kondisi tertentu.
Oh ya, karena tingkat kesulitan serta variasi permainan yang cukup unik, BB alias Battle Brothers menjadi satu gim terkenal yang banyak ditiru pula inspirasinya. Namun, semua berawal dari minimalisnya low-fantasy ala BB ini.
 |
| Urbexile yang sudah jelas salah langkah (via Acerax). |
Slay The SpireDan terakhir, adalah gim yang menggunakan kartu, ala turn-based-nya. Ya, Slay The Spire dari tahun 2019 adalah Roguelike yang berisi kartu, namun dengan latar yang fantastis dan irasional. Untuk strukturnya, justru gim ini mirip dengan FTL. Setiap titik yang dipilih pemain, berisi monster, cerita, pedagang, atau harta. Namun yang berbeda, memang dimainkan dengan gelut ala kartu, dan semua yang ada di gim ini adalah random nan acak.
Awalnya karakter yang dapat dimainkan adalah The Warrior, yang berujung tiga pilihan karakter lainnya. Setiap karakter memiliki khasnya sendiri, dan perlu disesuaikan dengan acaknya kartu yang didapat atau dibeli pada setiap titiknya. Kartu bisa berarti menyerang, bertahan, mengeluarkan jurus, mengisi nyawa, atau kombinasi dari semuanya. Tentu taktik harus disesuaikan dengan keadaan, atau tipe musuh yang sedang dilawan.
Selain kartu, terdapat pula Potion atau Relic. Potion adalah obat sekali pakai, yang memiliki efek berbeda-beda. Sementara Relic memiliki efek permanen, yang didapat dari monster Elite, Boss, atau Peti Harta (Chest). Namun Relic bisa berarti baik atau buruk, dan bahkan merubah cara main. Jika tidak disesuaikan, maka Relic malah berujung petaka bagi karakter dan pemainnya.
Nah, berbeda dengan gim sebelumnya dan lebih mirip FTL, justru yang asyik dari gim ini adalah Kartu, Relic, atau sejenis barang lain yang dibuka (unlock) setelah setiap sesinya. Ya, terdapat banyak fitur gim yang terkunci saat awal memainkan gim Slay The Spire (yang memang khas dari setiap gim Roguelike).
Nantinya, jumlah barang nan acak yang didapat pemain, akan semakin bervariatif setiap sesinya. Karena itu, istilah meme One More Run sangat cocok untuk gim kartu ini, dan secara luas untuk genre Roguelike.
Penutup dari Gamer
Jadi, sudah dipilih gim mana saja yang cocok untuk dimainkan? Oh ya, gim diatas memang kurang genre aksinya, karena memang berbeda lahan. Namun karena tujuannya santai, maka sengaja tidak dimasukkan.
Adapun satu gim aksi yang khas dengan terlihat dari satu sisi (Side Scroller) saja, dengan bumbu platformer dan Roguelike-nya. Judulnya adalah Rogue Legacy dari tahun 2013 lalu, yang memang memulai kembali ramainya sub-genre Side-Scroller dan Platformer (!) Penulis kurang suka kontrolnya (tidak pakai kombinasi Mouse dan Keyboard), jadi tidak bisa merekomendasikannya.
Tapi ya... kalau mau rekomendasi sih, sebenarnya langsung saja mainkan Dead Cells dari tahun 2018 lalu (yang bisa pakai MKB). Mungkin untuk VGA Laptop sejenis Vega 8 atau Intel Iris, bisa saja dimainkan (?) Yah... memang penulis bukan seorang digital benchmark-er sih...
Okeh,... Back to Gaming...